Senin, 18 Maret 2019

HUBUNGAN KEMAHATAHUAN ALLAH DENGAN PENETAPAN ALLAH ATAS SEGALA SESUATU

Oleh: Join Kristian Zendrato 

Beberapa waktu yang lalu, saya telah menulis sebuah artikel mengenai penetapan Allah atas segala sesuatu (untuk membaca artikel saya tersebut klik di sini dan di sini). Dalam artikel tersebut saya mempertahankan bahwa segala sesuatu yang terjadi, termasuk dosa adalah ketetapan kehendak Allah. Tidak ada satu pun yang terjadi di luar kehendak Allah. 

Nah, sekarang saya akan menguraikan satu dasar lagi bagi doktrin tersebut, yakni dengan menelusuri hubungan antara kemahatahuan Allah dengan penetapan-Nya atas segala sesuatu. Saya berargumen bahwa doktrin kemahatahuan Allah adalah salah satu dasar yang sangat kuat untuk mendukung doktrin penetapan Allah atas segala sesuatu. Saya akan memaparkan argumen tersebut secara ringkas berikut ini. 

Pertama. Saya percaya bahwa sebelum segala ciptaan ada, maka yang ada hanya Allah sendiri. Ini ditunjukkan oleh fakta bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (bdk. Kej. 1:1; Nehemia 9:6; Yoh. 1:3). 

Kedua. Dalam kekekalan itu, ketika semua ciptaan belum ada, saya percaya bahwa Allah telah mengetahui segala sesuatu secara mutlak. Saya percaya bahwa atribut-atribut Allah, seperti kemahatahuan-Nya tidak pernah terpisah dengan hakikat Allah sendiri. Tidak ada suatu waktu dimana Ia tidak mahatahu. Ia senantiasa mahatahu. Herman Bavinck menegaskan, “Pengetahuan [Allah] tersebut meliputi segala sesuatu dan karenanya mahatahu dalam arti yang ketat” (penekanan dari saya).[1] Dalam hemat saya, doktrin kemahatahuan Allah ini harus diterima secara mutlak oleh orang-orang yang mempercayai Alkitab sebagai Firman Allah, sebab Alkitab memang dengan jelas mengajarkan bahwa Allah mahatahu. Sebagaimana diungkapkan oleh Bavinck, “Tidak ada satu bagian pun dari Kitab Suci yang menunjukkan bahwa adanya satu hal yang tidak diketahui oleh Dia”[2] (bdk. 1 Samuel 2:3; Ayub 37:16; Ibrani 4:13).[3] Daud mengakui kemahatahuan Allah ini ketika ia berkata:

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri,
Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring,
segala jalanku Kaumaklumi.
Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan,
sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.
Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku,
dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.
Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi,
tidak sanggup aku mencapainya.
(Mazmur 139:1-6)

Ketiga. Jika Allah itu telah mengetahui segala sesuatu secara mutlak dalam kekekalan, sebelum segala ciptaan ada, maka saya percaya bahwa segala sesuatu pasti terjadi persis seperti apa yang diketahui Allah dalam kekekalan. Jadi, kalau misalnya dalam kekekalan Ia tahu akan terjadi A, maka dalam waktu, ketika itu terjadi, yang terjadi pasti A, tidak bisa terjadi B atau C. Tidak ada ruang bagi kemungkinan-kemungkinan kosong. Jika hari ini, saya memakai baju warna hijau, maka dalam kekekalan, Allah tahu bahwa saya memang akan memakai baju warna hijau hari ini. Jika dalam kekekalan, Allah mengetahui bahwa saya akan memakai baju berwarna hijau hari ini tetapi hari ini saya tau-taunya memakai baju merah, maka pengetahuan Allah itu salah. Jelas ini tidak mungkin. Jadi, ada keselarasan antara apa yang diketahui oleh Allah, dan terjadinya yang diketahui itu. 

Keempat. Jika Allah memang mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi secara mutlak, maka tidak bisa tidak segala sesuatu sudah tertentu. Pengetahuan-Nya tidak bisa bertentangan dengan apa yang terjadi dalam sejarah. Jika ada satu saja yang terjadi yang tidak sesuai dengan apa yang Dia ketahui, maka Dia tidak mahatahu. Singkatnya, jika Allah mengetahui segala sesuatu secara mutlak dan pasti, maka segala sesuatu pasti sudah tertentu dalam kekekalan.

Kelima. Sekarang, saya akan mengajukan pertanyaan ini: jika segala sesuatu sudah tertentu dalam kekekalan, siapakah yang menentukkannya? Tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri, karena hal-hal itu belum ada! Maka saya yakin bahwa satu-satunya alternatif untuk menjawab pertanyaan di atas adalah bahwa Allah lah yang menentukannya, sebab dalam kekekalan hanya Dia sendri yang ada (lihat bagian nomor satu di atas). Menurut saya, ini adalah implikasi yang sangat logis, seperti ditegaskan oleh Loraine Boettner, “jika Allah mengetahui terlebih dahulu suatu kejadian di masa mendatang, berarti kejadian tersebut sudah tetap dan pasti seoah-olah sudah ditetapkan terlebih dahulu, karena pra-pengetahuan implikasinya adalah kepastian, dan kepastian implikasinya adalah penetapan terlebih dahulu.”[4]

Catatan: mengenai masalah ketetapan Allah, dan kebebasan, serta tanggung jawab manusia, saya telah membahasnya dalam tulisan lain di blog ini. Baca di sini.
 

[1]Herman Bavinck, Dogmatika Reformed: Allah dan Penciptaan, jilid II (Surabaya: Momentum, 2012), 235.
[2]Bavinck, Dogmatika Reformed, jilid II, 235. 
[3]Lihat Bavinck, Dogmatika Reformed, jilid II, 235-241; Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Allah, volume I (Surabaya: Momentum, 2005), 110.   
[4]Loraine Boettner, Iman Reformed (Surabaya: Momentum, 2000), 39.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTRIN PREDESTINASI REFORMED (CALVINISME)

Oleh: Join Kristian Zendrato A. PENDAHULUAN Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas doktrin predestinasi yang merupakan sala...