Minggu, 16 September 2018

KRITIK SINGKAT TERHADAP BEBERAPA PEMIKIRAN PLATO

Oleh: Join Kristian Zendrato
Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas beberapa pemikiran Plato dan setelah itu, saya akan menanggapinya secara singkat. Plato (Πλάτων; lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM) adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates, sehingga pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato sendiri adalah guru dari Aristoteles.

A. BEBERAPA PEMIKIRAN PLATO
Plato terkenal dengan teorinya mengenai ide atau gagasan. Ia beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah semacam bayangan dari sesuatu yang ideal. Jadi Plato percaya bahwa realitas itu terbagi menjadi dua wilayah. Jostein Gaarder dalam novel filsafatnya yang terkenal Dunia Sophie menjelaskan kedua wilayah ini sebagai berikut:
“Satu wilayah adalah dunia indra, yang mengenainya kita hanya dapat mempunyai pengetahuan yang tidak tepat atau tidak sempurna dengan menggunakan lima indra kita. Di dunia indra ini, “segala sesuatu berubah” dan tidak ada yang permanen. Dalam dunia indra ini tidak ada sesuatu yang selalu ada, yang ada hanyalah segala sesuatu yang datang dan pergi. Wilayah yang lain adalah dunia ide, yang mengenainya kita dapat memiliki pengetahuan sejati dengan menggunakan akal kita. Dunia ide ini tidak dapat ditangkap dengan indra, namun ide (atau bentuk-bentuk) itu kekal dan abadi” [(Jostein Gaarder, Dunia Sophie: Sebuah Novel Filsafat (Bandung: Mizan Pustaka, 1997), hlm. 107-108]
Lebih lanjut, Gaarder menulis, “Plato percaya bahwa segala sesuatu yang nyata di alam ini ‘mengalir.’ Maka tidak ada ‘zat’ yang tidak hancur. Jelas bahwa segala sesuatu yang termasuk dalam ‘dunia material’ itu terbuat dari materi yang dapat terkikis oleh waktu, namun segala sesuatu dibuat sesuai dengan ‘cetakan’ atau ‘bentuk’ yang tak kenal waktu yang kekal dan abadi” (Gaarder, Dunia Sophie, hlm. 103). Jadi, jika seseorang melihat kuda, maka rasanya ada sesuatu yang sama, yang dimiliki oleh kuda tersebut. Seekor kuda tertentu “berubah,” dengan sendirinya. Ia mungkin tua dan lumpuh, dan kemudian mati. Namun “bentuk” kuda itu kekal dan abadi. Jadi, sebagaimana disimpulkan oleh Gaarder,
“Dia (Plato) heran melihat bagaimana seluruh fenomena alam dapat begitu serupa, dan dia menyimpulkan bahwa itu pasti karena ada sejumlah terbatas bentuk-bentuk ‘di balik’ segala sesuatu yang kita lihat di sekeliling kita. Plato menyebut bentuk-bentuk ini ide. Di balik setiap kuda, babi atau manusia, ada ‘kuda ideal,’ ‘babi ideal,’ dan ‘manusia ideal.’… Plato sampai pada kesimpulan bahwa pasti ada realitas di balik ‘dunia materi.’ Dia menyebut realitas ini dunia ide; di situ tersimpan ‘pola-pola’ yang kekal dan abadi di balik berabagai fenomena yang kita temui di alam” (Gaarder, Dunia Sophie, hal. 105).
Plato juga percaya akan praeksistensi jiwa. Jadi, bagi dia, jiwa telah ada sebelum ia mendiami tubuh (Gaarder, Dunia Sophie, hal. 108). Pandagan ini memimpin Plato pada anggapan yang begitu ekstrim, sebagaimana dikemukakan oleh Gaarder, “tubuh dan seluruh dunia indra dianggap tidak sempurna dan tidak penting. Jiwa rindu untuk terbang pulang dengan sayap-sayap cinta ke dunia ide. Ia ingin dibebaskan dari belenggu tubuh.” (Gaarder, Dunia Sophie, hal. 105)
B. KRITIK TERHADAP PEMIKIRAN PLATO
Konsep Plato mengenai dunia ide jelas bertentangan dengan firman Allah. Jika dunia idenya Plato (entah dimana) berisi pola-pola ideal dari segala sesuatu di dunia ini (ingat mengenai kuda ideal, babi ideal dan manusia ideal), dan bersifat kekal, maka otomatis pola-pola itu tidak tergantung (independen) terhadap Allah, pola-pola itu sendiri kekal atau abadi, dan tidak mungkin yang kekal dan abadi bersifat tergantung. Jadi jika dipaksakan, maka paling tinggi, pola-pola di dunia idenya Plato ada bersama-sama dengan Allah dalam kekekalan, dan hal ini jelas tidak mungkin, karena segala sesuatu diciptakan oleh Allah (Kej. 1:1), dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang eksis (bdk. Yoh. 1:3). Bukan hanya itu saja, dunia idenya Plato juga tidak mendapat dukungan secuil pun dalam Kitab Suci.
Kemudian, mengenai prakesistensi jiwa yang diajarkan oleh Plato, ajaran ini sempat dipopulerkan juga oleh bapa gereja Origenes [(Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Manusia (Surabaya: Momentum, 2004), hal. 35]. Tetapi kekristenan yang Alkitabiah jelas tidak akan menerima ajaran ini, karena jika demikian, maka jiwa manusia bukan diciptakan oleh Allah. Padahal Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa jiwa manusia diciptakan oleh Allah (bdk. Kej. 2:7).
Juga, secara sederhana, teori ini tidak terbukti kebenarannya dalam kesadaran manusia. Sebagaiamana diungkapkan oleh Louis Berkhof, “Teori ini tidak mendapat dukungan dalam kesadaran manusia. Manusia sama sekali tidak memiliki kesadaran akan keadaan jiwanya sebelum lahir ke dunia”( Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Manusia, hal. 36).
Kemudian, anggapan Plato bahwa segala “tubuh dan seluruh dunia indra dianggap tidak sempurna dan tidak penting. Jiwa rindu untuk terbang pulang dengan sayap-sayap cinta ke dunia ide. Ia ingin dibebaskan dari belenggu tubuh” (Gaarder, Dunia Sophie, hal. 108), adalah anggapan yang sama sekali betentangan dengan firman Allah. Harus diakui bahwa hanya memikirkan dunia ini tanpa memikirkan kekekalan adalah sesuatu yang salah. Tetapi ini tidak berarti bahwa dunia indra atau bahkan tubuh ini tidak penting.
Pertama jika tubuh tidak penting, maka doktrin Inkarnasi (Yoh. 1:14) hancur, sebab Kristus yang adalah Allah justru mengambil rupa manusia yang bertubuh. Maka seandainya hanya jiwa yang penting sedangkan tubuh tidak penting maka Kristus tidak mungkin menjadi manusia, bahkan naik ke surga dengan tubuh-Nya yang telah dimuliakan.
Kemudian teori ini juga membuang kemungkinan adanya kebangkitan tubuh, yang jelas merupakan ajaran yang sangat penting dalam kekristenan (baca 1 Kor. 15). Jika hanya jiwa yang penting dan tubuh tidak penting, maka tidak ada kebangkitan, karena untuk apa mengharapkan atau untuk apa Allah membangkitkan tubuh, yang merupakan sesuatu yang tidak penting?
Teori ini juga bisa berujung pada ketidak acuhan terhadap hal-hal indrawi. Jika yang terpenting adalah jiwa, maka segala sesuatu yang ada di dunia ini bisa saja diperlakukan sesuka hati, seperti pengabaian lingkungan, dan sebagainya, karena toh pada dasarnya hal-hal indrawi tidak penting. Bahkan jika yang penting adalah jiwa, maka kasus bunuh diri bisa diterima. Bukankah jika jiwa ingin lepas dari penjara tubuh, akan lebih baik jika tubuh itu mati? Dan ini bisa saja mendorong bunuh diri, demi pelepasan jiwa dari tubuh menuju dunia ide yang lebih sempurna. Maka jelas teori ini adalah teori yang sesat dan di atas segala-galanya tidak Alkitabiah.
KEPUSTAKAAN
1. Berkhof, Louis. Teologi Sistematika: Doktrin Manusia. Surabaya: Momentum, 2004.
2. Gaarder, Jostein. Dunia Sophie: Sebuah Novel Filsafat. Bandung: Mizan Pustaka, 1997.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTRIN PREDESTINASI REFORMED (CALVINISME)

Oleh: Join Kristian Zendrato A. PENDAHULUAN Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas doktrin predestinasi yang merupakan sala...