Rabu, 19 September 2018

STUDI DOKTRINAL: KEILAHIAN YESUS (SERI #KEDUA)

Oleh: Join Kristian Zendrato 

B. KITAB SUCI MEMBERIKAN NAMA-NAMA ILAHI UNTUK YESUS 
Pada seri pertama sebelumnya, saya telah membahas mengenai ayat-ayat yang secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Nah, pada seri kedua ini, saya akan membahas mengenai pemberian nama-nama ilahi untuk Yesus dalam Kitab Suci. Karena Yesus adalah Allah, maka otomatis Ia mempunyai nama-nama ilahi. Sebenarnya, sebutan "Allah" kepada Yesus, seperti yang telah saya paparkan pada seri sebelumnya sudah menunjukkan bahwa Kitab Suci memberikan Nama Ilahi untuk Yesus, tetapi karena masih ada Nama-nama yang lain, maka saya memutuskan untuk membahasnya secara singkat pada seri kedua ini.
Dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru, Yesus sering disebut sebagai Tuhan (Yunani: Kurios). Kata ini bisa diartikan “tuan” (Inggris: sir) untuk sekedar memberikan penghormatan kepada seseorang. Tetapi Ketika Yesus disebut sebagai “Tuhan,” hal itu dilakukan untuk menunjukkan keilahian Yesus bukan hanya sekedar “tuan” (sir) untuk menghormati-Nya. Hal itu terlihat dari beberapa ayat yang akan saya kutip berikut ini. 
Dalam Kisah Para Rasul 7:59-60 dicatat “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’ Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.” Kata “Tuhan” dalam teks di atas tidak mungkin diterjemahkan “tuan” (sir) karena di sana Stefanus menggunakan sebutan tersebut pada saat berdoa kepada Yesus. Sebagai objek doa, Yesus harus adalah “Tuhan” yang ilahi dan bukan sekedar “tuan” (sir).  
Dalam Kisah Para Rasul 10:36 Lukas menulis, “Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.” Lagi-lagi, kata “Tuhan” dalam teks ini tidak bisa diartikan sekedar “tuan” (sir), karena tidak ada seseorang yang bisa menjadi “tuan” (sir) dari semua orang. Kemudian dalam Ibrani 1:10 tertulis, “Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.” Kata “Tuhan” dalam Ibrani 1:10 ini tidak mungkin diartikan sebagai “tuan” (sir), karena Ia dinyatakan “meletakkan dasar bumi,” dan “langit adalah buatan tangan-Mu.” Jadi, secara mutlak ayat ini menyatakan keilahian Yesus Kristus. 
Dalam Filipi 2:10-11 rasul Paulus menulis, “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Jika kata “Tuhan” di sini diartikan sebagai “tuan” (sir), maka perlu dipertanyakan: mengapa semua yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi berlutut menyembah kepada seorang “tuan” (sir)? Dari semua penjelasan ini, jelas bahwa sebutan “Tuhan” yang ditujukan kepada Yesus menunjukkan keilahian-Nya.
Selanjutnya, dalam Yeremia 23:5-6 tertulis, “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN - keadilan kita.” Teks Perjanjian Lama ini merupakan nubuat tentang Mesias (Yesus). Bahwa ayat ini merupakan suatu nubuat tentang Mesias (Yesus), terlihat dari gelar “Tunas adil bagi Daud” dalam ayat 5-nya. Bahwa gelar ini menunjuk kepada Yesus terlihat dengan jelas kalau  dibandingkan dengan ayat-ayat yang berbicara mengenai Kristus berikut ini, misalnya:  dalam Yesaya 53:2, “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.” Kemudian dalam Wahyu 5:5 Yohanes menulis, “Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: ‘Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.’” Kemudian dalam Wahyu 22:16, Yesus sendiri menyatakan, “‘Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.’”
Dalam Yeremia 23:5-6 di atas, Kristus disebut sebagai “TUHAN keadilan,” dimana kata “TUHAN” tersebut dalam bahasa Ibraninya adalah “YHWH.” Menarik untuk diketahui bahwa dalam Kitab Suci, kata Ibrani “ADONAI” (Lord - Tuhan) bisa digunakan untuk seseorang yang bukan Allah (Misalnya dalam Yes. 21:8). Demikian juga dengan kata Ibrani “EL” atau “ELOHIM” (God(s) - Allah) bisa digunakan untuk menunjuk kepada dewa dan bahkan manusia (Misalnya: Kel. 4:16; 7:1; 12:12; 20:3, 23; Hak. 16:23-24; 1Raj. 18:27; Mzm 82:1, 6). Tetapi sebutan “YHWH” (TUHAN),[1] tidak pernah digunakan untuk siapapun atau apapun selain Allah! Seorang ahli teologi Reformed bernama Louis Berkhof, menyatakan bahwa nama ini merupakan, “the most sacred and the most distinctive name of God, the incommunicable name.”[2] Berkhof selanjutnya menjelaskan bahwa Nama itu, “dengan demikian tidak dipakai untuk siapapun, kecuali untuk Allah orang Israel.”[3] Karena itu, kalau Yesus disebut dengan istilah YHWH, itu pasti menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri.
Selanjutnya, dalam Matius 1:23 Yesus disebut dengan istilah Imanuel, yang artinya adalah God with us (Allah dengan kita).[4] Leon Morris dalam tafsirannya mengenai ayat ini, menyatakan bahwa, "'Imanuel' adalah nama Yesus dalam pengertian semua yang tercakup di dalam nama itu, tergenapi di dalam Dia. Kutipan dan terjemahan nama Ibrani menggarisbawahi bahwa di dalam Yesus, tidak kurang dari Allah sendiri datang kepada kita. Di akhir Injil Matius kita menemukan janji bahwa Yesus akan menyertai umat-Nya hingga akhir zaman (28:20) – Allah sungguh beserta kita."[5]
Terakhir, dalam Perjanjian Lama, sebutan “Juruselamat” dan “Penebus” atau “Penolong” ditujukan kepada Allah (Yes. 43:3,11; Yes. 45:15; Yer. 14:8; Hos. 13:4), tetapi dalam Perjanjian Baru, sebutan itu ditujukan kepada Yesus (2Tim. 1:10; Tit. 1:4; 2:13; 3:6; 2Ptr. 1:11; 2:20; 3:18). Semua ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.

[1]Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menterjemahkan YHWH dengan TUHAN (semua huruf dicetak dengan huruf kapital).
[2]Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, Michigan: W.M. B. Eerdmans Publishing Co., 1949 ), 49.
[3]Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Allah (Surabaya: Momentum, 2005), 72. Herman Bavinck memberikan penjelasan yang sama mengenai nama YHWH ini, Bavinck menulis, “Dalam Perjanjian Lama, nama YHWH adalah penyataan tertinggi tentang Allah. … YHWH adalah nama Allah yang sesungguhnya (Kel. 15:3; Mzm. 83:18; Hos. 12:5; Yes. 42:8). Oleh karena itu, nama ini tidak pernah digunakan bagi allah mana pun selain Allah Israel.” Herman Bavinck, Dogmatika Reformed: Allah dan Penciptaan, jld II (Surabaya: Momentum, 2012), 171.  
[4]Ayat ini dikutip oleh Matius dari Perjanjian Lama, yakni Yesaya 7:14.
[5]Leon Morris, Injil Matius (Surabaya: Momentum, 2016), 32-33. Cetak miring dari saya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTRIN PREDESTINASI REFORMED (CALVINISME)

Oleh: Join Kristian Zendrato A. PENDAHULUAN Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas doktrin predestinasi yang merupakan sala...