Minggu, 16 Desember 2018

RASA MALU DAN KEHORMATAN YANG SEJATI

Oleh: Join Kristian Zendrato
  
Dalam pengalaman sehari-hari, manusia sering merasa malu dan merasa kurang terhormat karena mereka tidak memiliki barang tertentu, jabatan tertentu, posisi tertentu, bentuk tubuh ‘ideal,’ dan sebagainya. Anda mungkin sering mendengar seorang anak yang mengancam orang tuanya tidak mau melanjutkan sekolah jika tidak dibelikan sebuah handphone, sepeda motor, mobil, dan sebagainya. Atau seorang artis yang malu karena rumahnya kurang besar atau mewah. Rasa malu dikaitkan dengan ketidakpunyaan barang-barang itu. Anda juga pasti sering mendengar orang-orang tertentu yang bertengkar untuk memperebutkan jabatan atau posisi tertentu. Hal itu dikarenakan, dalam pikiran mereka, kehormatan itu datang dari status mempunyai jabatan atau posisi tertentu. Sebaliknya, bagi mereka, ketika seseorang tidak mempunyai jabatan, maka orang itu pasti tidak terhormat.
  
Tetapi ironisnya, orang-orang yang berusaha menutupi rasa malu mereka dengan barang-barang tertentu seringkali kita dengar telah berlaku menyimpang dari tatanan moral. Tetapi anehnya, mereka tidak merasa malu dengan penyimpangan moral tersebut. Mereka merasa malu kalau mereka tidak memiliki mobil mewah atau rumah mewah, ketimbang merasa malu karena penyimpangan moral. Aneh tapi nyata. Demikian juga dengan orang-orang yang menganggap kehormatan berasal dari kepemilikan atas jabatan tertentu sering kedapatan tak bermoral. Anda pasti sering mendengar tentang wakil rakyat yang melakukan penyimpangan moral. Tetapi mereka tetap merasa terhormat, terlepas dari penyimpangan moral itu, asal mereka masih menduduki jabatan tertentu. Inilah dunia kita. 

Tetapi bertentangan dengan standar rasa malu dan kehormatan dunia ini, Alkitab berdiri sendirian, dengan standarnya yang mungkin bagi dunia sangat tidak masuk akal. Tetapi, saya yakin, Firman Allah tidak berdusta.
  
Alkitab menempatkan manusia langsung berhadapan dengan Allah yang Kudus dan Adil. Dan jika ini dipahami dengan baik, maka manusia itu adalah objek murka Allah. Hal itu terjadi karena manusia itu berdosa di hadapan Allah yang Kudus dan Adil. Maka dari poin ini saja, kita bisa melihat bahwa rasa malu yang sesungguhnya adalah rasa malu yang timbul dalam hati manusia yang menyadari bahwa ia adalah manusia berdosa, yang berdiri di hadapan Allah yang Kudus dan Adil, yang berarti menyadari bahwa karena dosa, ia berada di bawah murka Allah, akan dihukum oleh Allah, dan pada akhirnya akan dilemparkan ke dalam neraka untuk dihukum selama-lamanya oleh Allah. Seharusnya, inilah yang membuat kita malu. Inilah rasa malu yang saya sebut sebagai rasa malu yang sejati.
  
Demikian juga dengan perihal kehormatan. Alkitab menjungkirbalikkan standar dunia. Jika bagi dunia, kehormatan di dapatkan dari jabatan, posisi atau dengan memiliki barang-barang tertentu, maka dari sudut pandang Alkitab, manusia justru mendapatkan kehormatannya dari fakta bahwa ia telah dibebaskan dari hukuman dosa melalui kematian dan kebangkitan Kristus, sehingga ia tidak dihukum selama-lamanya dalam neraka, dan Allah mengadopsinya menjadi anak-Nya. Inilah yang saya sebut sebagai kehormatan yang sejati. Dr. David F. Wells seorang Professor of Historical and Systematic Theology di Gordon Conwell Theological Seminary, dalam bukunya yang penting Losing Our Virtue: Why the Church Must Recover Its Moral Vision[1] menyatakan: 
Namun dalam dunia Allah yang merupakan kebalikannya, kehormatan justru datang melalui kelahiran – kelahiran baru. Melalui pengangkatan kita sebagai anak, perubahan status kita dikerjakan dalam kematian Kristus, kita telah menerima segala hak untuk menjadi bagian dari keluarga Allah (Rm. 8:5). Kita sekarang memperoleh bagian dari warisan ilahi (Rm. 8:17). Inilah kehormatan yang sesungguhnya. Dan rasa malu, yang telah dipikul mati di atas salib, juga dipahami dengan cara yang ultimat. Jika rasa malu adalah pengalaman mengenal bahwa diri kita ternyata bukan seperti orang-orang yang seharusnya, atau pengalaman yang terungkap, maka bukankah rasa malu yang terdalam akan kita alami di hadapan Allah? Dan bukankah penutup rasa malu seperti sudah diulurkan kepada kita dalam kematian Kristus? Doktrin Perjanjian Baru tentang pembenaran menyatakan bahwa melalui percaya dalam Kristus kita dapat diselubungi dan berpakaian bukan dengan kebenaran kita sendiri, melainkan dengan kebenaran yang diberikan oleh Kristus melalui anugerah saja kepada mereka yang percaya, bukan dalam psikologi mereka sendiri atau dalam citra diri mereka, atau keluarga atau kota, melainkan hanya dalam kematian-Nya sebagai ganti mereka di atas salib. Itu adalah berita yang sangat berkuasa bagi mereka yang malu tentang diri mereka sendiri! [malu yang dimaksud adalah malu dalam arti Alkitabiah seperti yang saya paparkan di atas].[2] 
Sebaliknya, menurut Dr. Wells, orang yang tidak mengalami hal inilah (kelahiran baru, pengangkatan sebagai Anak Allah, kepercayaan kepada Kristus, pembebasan dari hukuman neraka) yang pada akhirnya akan malu dan tidak terhormat. Dr. Wells berkata: 
Penghukuman Allah akan menjadi pengalaman yang paling memalukan, dan itu akan ditanggung, bukan oleh Kristus, tetapi oleh mereka yang telah menolak untuk menyembah di hadapan-Nya dan menerima kematian-Nya sebagai ganti mereka. Rasa malu mereka akan menjadi kekal.[3] 
Standar rasa malu dan kehormatan dunia hendaknya membuat kita tidak goyah. Entah karena kita tidak mempunyai harta yang banyak, fisik yang kurang menarik, kulit yang gelap, suku yang diabaikan, atau entah kita tidak mempunyai jabatan tertentu, kita harus selalu mengingat bahwa standar rasa malu atau kehormatan dalam Firman Allah tidak ditentukan oleh hal-hal itu. Jemaat Laodikia secara fisik kaya dan terhormat, tetapi dalam pandangan Kristus “engkau melarat, dan malang, miskin, buta, dan telanjang” (Why. 3:17). Untuk menyimpulkan hal ini, saya rasa kata-kata Dr. Wells berikut ini sangat baik untuk dikutip: 
Posisi dalam dunia ini tidak menghasilkan posisi dalam Allah, tidak peduli latar keluarga, kekayaan, atau koneksi-koneksinya. Kita dapat memperoleh sejumlah besar barang-barang, bermandikan kehormatan dan martabat, tetapi meskipun segala jaminan duniawi dapat kita beli atau usahakan, akan tiba hari ketika kita kehilangan jiwa kita sendiri, sebab apa yang meninggikan orang dalam kehidupan ini bisa menjadi penyebab rasa malu mereka dalam kehidupan berikutnya (Luk. 18:18-25).[4] 
Sekarang, apakah Anda sedang merasa malu atau terhormat? Anda merasa malu atau terhormat dalam hal apa? Apakah Anda merasa malu karena tidak memiliki barang tertentu, atau karena memiliki bentuk tubuh yang kurang menarik? Atau apakah Anda merasa malu karena Anda sadar Anda adalah manusia berdosa yang pantas dihukum dalam neraka? Juga, apakah Anda merasa terhormat karena jabatan Anda? Atau apakah Anda merasa terhormat karena Anda telah percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Anda, sehingga Anda sadar bahwa Anda sekarang adalah Anak Allah yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, dan telah terbebas dari hukuman neraka? 

Tuhan memberkati!


[1]David F. Wells, Losing Our Virtue: Why the Chruch Must Recover Its Moral Vision (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1998). Edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan oleh Penerbit Momentum di bawah judul Hilangnya Kebajikan Kita: Mengapa Gereja Harus Menemukan Kembali Visi Moralnya, terj. Peter Suwadi Wong (Surabaya: Momentum, 2005).
[2]Wells, Hilangnya Kebajikan Kita, hal. 238-239. 
[3]Wells, Hilangnya Kebajikan Kita, hal. 239. 
[4]Wells, Hilangnya Kebajikan Kita, hal. 237. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTRIN PREDESTINASI REFORMED (CALVINISME)

Oleh: Join Kristian Zendrato A. PENDAHULUAN Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas doktrin predestinasi yang merupakan sala...