Senin, 03 Desember 2018

NATAL DENGAN MUATAN MAKNA BARU

Oleh: Join Kristian Zendrato

Kita telah memasuki bulan Desember yang berarti masa-masa perayaan Natal telah dimulai oleh orang-orang Kristen. Natal dilaksanakan dengan tujuan untuk mengingat peristiwa historis yakni kelahiran Yesus Kristus.
  
Saya harus mengatakan dengan cepat bahwa peristiwa ini harus dihubungkan dengan fakta-fakta lain dari Alkitab mengenai pribadi dan karya Yesus. Ini berarti bahwa, seorang yang merayakan Natal semestinya harus mengakui bahwa Yesus yang lahir adalah Allah sejati dan manusia sejati. Kelahiran-Nya bersifat supranatural dalam arti Ia lahir dari perawan Maria, tanpa persetubuhan sebelumnya dengan seorang laki-laki. Dan bahwa tujuan kelahiran-Nya adalah untuk menggenapi misi-Nya, yakni untuk mati menggantikan umat-Nya di atas salib. Tanpa mempercayai hal-hal yang esensial ini, maka seseorang bisa saja mengatakan bahwa “Saya sedang merayakan Natal,” atau mengucapkan “Selamat Natal” kepada Anda, tetapi ‘Natal’ yang dia maksudkan jelas bukan Natal yang dimaksudkan oleh Kitab Suci.

Dengan berpedoman pada beberapa hal di atas, saya yakin bahwa tidak sedikit yang merayakan Natal secara salah. Betapa sering orang Kristen merayakan natal tanpa esensi Natal itu sendiri. Inilah salah satu ciri pemikiran yang disebut Harry Blamires sebagai The Post-Christian Mind (Pemikiran Pasca Kristen). Menurut Blamires, dan saya setuju dengannya bahwa, “Pemikiran Pasca-Kristen cukup siap untuk mewarisi tradisi Kristen sambil sekaligus terus mengosongkan isi Kristennya dalam praktik-praktik tersebut.”[1] Lalu Blamires mengambil perayaan Natal sebagai sebuah contoh. Blamires menulis: 

Sebuah contoh yang baik adalah perayaan Natal. Perayaan ini semakin dianggap sebagai waktu untuk berpesta, memberikan kado, dan mendorong semua bentuk pemuasan diri yang berlebihan. Seiring industri eceran dan perjalanan meraup semakin banyak keuntungan dari perayaan tahunan ini, dasar Kristennya semakin diabaikan. Bahkan ada orang yang menerima kartu “Natal” dengan kata “Natal” yang dicoret. Bukannya mengucapkan “Selamat Hari Natal,” si pengirim menyampaikan “selamat untuk musim ini” atau bentuk-bentuk pesan lain yang meniadakan unsur rohaninya.[2] 

Kritik Blamires tentunya ditujukan kepada orang-orang pada zamannya dan negaranya. Tetapi esensi dari pesan yang disampaikan oleh Blamires tetap berlaku, yakni bahwa telah terjadi pengosongan isi Kristen dari perayaan Natal tersebut. Pengosongan ini jelas terjadi di mana-mana.

Kami baru saja menerima sebuah undangan Natal yang diadakan oleh komunitas tertentu. Dan perhatikanlah apa tujuan perayaan Natal itu bagi mereka: “Untuk menyambut hari natal dan tahun baru 2018, sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang maha Esa, dengan tujuan mempererat tali silahturahmi serta rasa persaudaraan, dan kebersamaan.” Saya merasa pengundang memang tidak memedulikan esensi Natal yang sesungguhnya. Tujuan perayaan Natal yang sesungguhnya diganti dengan tujuan-tujuan komunitas mereka “mempererat tali silahturahmi serta rasa persaudaraan, dan kebersamaan.” Bahkan ketika ada penyebutan “Tuhan yang maha Esa,” saya tidak yakin bahwa mereka memaksudkan Allah dalam Alkitab, Allah Tritunggal, karena saya sering mendengar orang-orang yang mengatakan “Tuhan yang maha Esa” memang benar-benar unitarian atau seorang penganut sabelianisme. Semoga saja prediksi saya salah. Semoga!

Saya juga pernah mengikuti sebuah perayaan Natal beberapa tahun lalu, tetapi saya tercengang ketika melihat orang-orang yang beragama lain diundang untuk berbicara di mimbar. Mereka melakukan itu untuk membuktikan bahwa mereka ‘bertoleransi.’ Ini adalah tindakan pengaburan makna Natal. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak mengenal esensi Natal itu diberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan kesan Natal? 

Di lain pihak, dengan contoh di atas, saya menyadari bahwa banyak orang yang menyebut diri mereka ‘Kristen’ sebenarnya bukan Kristen sejati. Jika mereka adalah orang-orang Kristen sejati, yang mengerti esensi Natal, mereka tidak mungkin mengizinkan hal-hal seperti itu.

Saya juga semakin benci melihat perayaan Natal yang isinya sudah diganti dengan propaganda politik. Tetapi banyak orang Kristen yang ‘tidak tersinggung’ dengan hal-hal seperti itu. Mereka justru menyambut hal itu dengan meriah. Sekali lagi, esensi Natal semakin lama semakin hilang. 

Dengan kondisi seperti ini, kita membutuhkan pembaharuan. Mari merayakan Natal dengan mata yang tertuju pada Kristus yang menjadi manusia itu (Yoh. 1:14) demi keselamatan kita (Yoh. 3:16). Karena pada hakikatnya, Anak Allah menjadi manusia supaya manusia bisa menjadi anak-anak Allah. 

[1]Harry Blamires, Pemikiran Pasca Kristen,Terj. Irwan Tjulianto (Surabaya: Momentum, 2003), hal. 145.  Judul asli The Post-Christian Mind (Ann Arbor, Michigan: Servant Ministries, 1999).
[2]Blamires, Pemikiran Pasca Kristen, hal. 145. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTRIN PREDESTINASI REFORMED (CALVINISME)

Oleh: Join Kristian Zendrato A. PENDAHULUAN Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas doktrin predestinasi yang merupakan sala...