Senin, 10 Desember 2018

WILL METZGER DAN TOLERANSI

Oleh: Join Kristian Zendrato 

Will Metzger adalah pendeta kampus di University of Delaware sejak 1965. Pelayanan penginjilannya membawanya ke setiap benua, dan dia telah bersaksi kepada orang-orang dari beragam kebangsaan, baik di kampus maupun melalui gereja yang digembalakannya. Metzger adalah penulis buku Tell the Truth: The Whole Gospel Wholly by Grace Communicated Truthfully and Lovingly.[1] Buku ini merupakan buku yang membahas penginjilan dengan sangat baik. 

Dalam sebuah bab dalam bukunya itu, Metzger membahas sebuah topik menarik mengenai toleransi. Menurut Metzger toleransi telah mengalami perubahan makna. Hasilnya, orang-orang Kristen dituntut untuk tidak mengklaim ke-ekslusiv-an Kristus, karena hal itu dianggap tidak toleran.
  
Dalam pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Metzger, ia kerapkali mendapat respons negatif khususnya ketika ia berbicara mengenai keunikan Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan kepada Allah. Pembicaraan seperti ini sering dianggap orang sebagai ‘tidak toleran’ karena saat ini, kata mereka, kita sedang berada dalam suasana pluralisme (keanekaragaman kepercayaan atau agama).

Metzger mendapati bahwa arti toleransi pada masa kini telah berubah. Metzger menulis, “Makna baru dari toleransi telah meluas sehingga mencakup keharusan menyetujui semua kepercayaan, pendapat, norma, gaya hidup” (Metzger, hal. 218). Metzger juga mengutip penjelasan Josh McDowell dan Bob Hostetler mengenai toleransi dengan makna baru ini: “Benar-benar toleran ... artinya Anda harus sepakat bahwa posisi orang lain sama kuatnya dengan Anda sendiri... Anda harus memberikan persetujuan Anda, peneguhan Anda, dukungan Anda yang tulus pada kepercayaan dan tingkah laku mereka” (Metzger, hal. 218). 

Dengan defenisi toleransi seperti ini, Metzger menyatakan bahwa hal ini “telah mengakibatkan penginjilan menjadi kata yang negatif dalam benak banyak orang” (Metzger, hal. 218).
  
Untuk menyikapi pandangan yang meluas tentang toleransi ini, Metzger menyatakan bahwa perlu pembedaan antara tiga macam pluralisme. Mengenai pembedaan ini, Metzger mengutip Dr. Philip Ryken yang telah merangkum pandangan Donald A. Carson sebagai berikut: 
Yang pertama dinamakannya pluralisme empiris, maksudnya adalah fakta bahwa kita hidup dalam masyarakat yang beraneka ragam. Amerika adalah negara dengan berbagai bahasa, ras, agama, pandangan dunia... Yang kedua oleh Carson dinamakan pluralisme yang dihargai. Pluralisme yang dihargai ini melampaui fakta empiris dari pluralisme dan mencakup penilaiannya. Menghargai pluralisme berarti menerimanya dengan senang hati, menyambutnya, menjunjungnya, dan menyetujuinya. Carson melanjutkan dengan menjelaskan betapa pentingnya untuk menjunjung tinggi berbagai warisan etnis dan budaya. Jenis ketiga dari pluralisme adalah pluralisme filosofis. Kita ulang: pluralisme empiris adalah fakta, pluralisme yang dihargai menghormati fakta itu. Pluralisme filosofis melangkah lebih jauh  dan menuntutnya... Pluralisme filosofis mengubah fakta dari pluralisme menjadi suatu gagasan tetap. Ini adalah ideologi yang menolak adanya satu agama ataupun pandangan yang mengklaim memiliki kebenaran yang ekslusif. Pluralisme filosofis memungkiri keberadaan apa pun yang mutlak. Pluralisme filosofis memaksakan agar semua agama dan pandangan duniawi diperlakukan sama... Nama lain bagi pluralisme filosofis adalah relativisme (Metzger, hal. 219). 
Untuk pluralisme yang pertama dan kedua, orang Kristen mengakuinya. Orang Kristen mengakui bahwa ada beragam macam suku, bahasa, dan sebagainya (pluralisme dalam arti pertama), dan bahwa orang Kristen harus menghargai itu (pluralisme dalam arti kedua). Tetapi mengenai pluralisme filosofis, menurut Metzger, orang-orang Kristen tidak dapat menyetujuinya. Tetapi perlu diperhatikan bahwa tidak menyetujui agama orang lain tidak berarti kita tidak bertoleransi. Walaupun kita – orang-orang Kristen – tidak menyetujui pandangan orang lain, kita tetap harus bertoleransi. Untuk menjelaskan hal ini, Metzger mengutip kata-kata Dr. Ryken sebagai berikut: 
Menghargai hal itu [pluralisme filosofis] berarti membawa kematian bagi Kekristenan. Kekristenan yang kehilangan pegangannya  pada pernyataan Kristus yang ekslusif, bukan lagi Kekristenan. Namun, walaupun orang-orang Kristen tidak dapat menghargai pluralisme agama, mereka harus menoleransinya... Keristenan menuntut toleransi beragama. Maksud saya dengan toleransi adalah mengizinkan orang-orang lain memeluk dan mempertahankan keyakinan agama mereka masing-masing. Toleransi tidak berarti bahwa setiap orang harus setuju dengan setiap orang lain. itu sama sekali bukan toleransi. Kata toleransi sendiri mengasumsikan ketidaksepakatan, bahwa ada sesuatu yang harus ditoleransi. Jadi toleransi diterapkan pada orang-orang, dan bukannya pada kekeliruan-kekeliruan mereka... Pluralisme, bila dipahami dengan benar, menghormati keyakinan orang-orang lain. Ia menyadari bahwa ada isu-isu agamawi vital yang perlu didiskusikan dan bahkan mungkin diperdebatkan. Namun perdebatan ini harus dilakukan dengan kerendahan hati dan sikap saling menghormati... Kekristenan yang tidak toleran tidak dapat dibela. Ini bukan Kekristenan yang tulus sama sekali... Yesus berkata, “Siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu... Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:39, 44-45).[2] Jika seperti itulah kasih yang harus dimiliki orang-orang Kristen bagi musuh-musuhnya yang ganas, betapa lebih lagi mereka harus mengasihi orang-orang yang hanya berbeda pendapat dan menganut filsafat kehidupan yang berbeda. Toleransi adalah suatu kebajikan, terutama bagi orang Kristen. Jadi, Kekristenan sejati mempertahankan suatu kombinasi yang amat kuat yang tidak dijumpai di mana pun: toleransi dan kebenaran. Beberapa agama dan kebanyakan filsafat politik mengklaim mempunyai kebenaran tetapi mereka tidak toleran dan bertindak kejam terhadap orang-orang yang tidak sepakat dengannya. Mereka menawarkan kebenaran tanpa toleransi. Sebaliknya, pluralisme filosofis, tidak mengindahkan kebenaran. Pluralisme filosofis menyediakan satu pon toleransi tanpa satu gram pun kebenaran... Pluralisme filosofis memuji toleransi namun mencampakkan kebenaran, namun anehnya, pluralisme filosofis juga cenderung tidak toleran terhadap orang-orang yang memiliki keyakinan agamawi yang kuat, seperti misalnya orang-orang Kristen. Pada akhirnya, orang-orang Kristen menolak tuntutan pluralisme filosofis karena mereka [orang-orang Kristen] menghargai baik toleransi maupun kebenaran (Metzger, hal. 219-220). 
Saya mau menekankan satu hal dalam kutipan di atas, yakni bahwa toleransi itu ditujukan kepada orangnya bukan pada pandangan-pandangan mereka yang keliru. Jadi, saya bisa saja berdebat dan tidak menyetujui pandangan atau kepercayaan seseorang, tetapi saya tetap harus toleransi terhadap orang tersebut dengan memperlakukannya dengan sopan, dan sebagainya. Hal ini jelas bertentangan dengan defenisi toleransi yang diusulkan oleh pluralisme filosofis, karena bagi mereka, setiap pandangan orang itu benar, tidak ada yang mutlak. Dan sebenarnya, pandangan pluralisme filosofis bertentangan dengan defenisi toleransi versi mereka sendiri. Bagaimana tidak, pluralisme filosofis sendiri tidak setuju dengan pandangan yang bertentangan dengan mereka.
  
Metzger memberikan contoh bagaimana orang Kristen bisa toleransi di satu sisi tetapi di sisi lain tetap berpegang pada kebenaran. Ia menulis: 
Kita mengekspresikan kebenaran dan kasih melalui kata-kata seperti ini: ‘Kami mengasihimu, tetapi kami berpendapat bahwa engkau melakukan (atau mempercayai) sesuatu yang salah. Kami mengatakan ini bukan karena kami lebih baik, melainkan karena kami berpendapat bahwa kita semua diciptakan oleh Allah untuk tujuan-Nya. Ia telah mengungkapkan bagaimana kita harus hidup agar membawa kemuliaan bagi-Nya dan memberi kebebasan bagi mereka.’ (Metzger, hal. 221). 
Jadi, kita tetap bisa tetap tidak setuju dengan seseorang, tetapi kita tetap bisa menunjukkan kasih dan bertoleran kepada orang tersebut. Palus bahkan dalam 1 Kor. 13 menyebutkan bahwa salah satu ciri-ciri dari kasih Kristen adalah “bersukacita karena kebenaran” (ay. 6). Ini berarti kasih tidak menyetujui yang salah dan jahat. Jadi, pluralisme agama yang menganggap bahwa semua agama itu sama, dan sebagainya, sesungguhnya bertentangan dengan ciri kasih di atas. Jika kita mengatakan kita mengasihi seseorang, tetapi tidak peduli apakah orang itu benar atau salah, maka kita sebenarnya tidak mengasihi sama sekali. Anda tidak mengasihi seseorang jika anda tidak menegurnya atau memperingatkannya ketika ia mempercayai atau berbuat salah. Kadang-kadang kita bahkan harus ‘menyinggung perasaan’ seseorang untuk menyadarkan bahwa ia salah, tetapi kita tetap mengasihi dia. Akhirnya, Metzger mengutip Josh McDowell dan Bob Hostetler sebagai berikut: 
Bila Anda mengasihi seseorang, Anda tidak akan bersikap tidak peduli pada kepercayaan atau perilaku yang berbahaya atau merusak, hanya karena Anda tidak mau menyinggung perasaannya. Namun toleransi yang baru justru menuntut ketidakpedulian seperti itu. Toleransi berkata, “Engkau harus setuju dengan saya.” Kasih menanggapi, “Saya harus berusaha lebih keras lagi; saya akan menceritakan kebenaran kepadamu sebab saya yakin bahwa ‘kebenaran akan memerdekakan kamu’ [Yoh. 8:32].” Toleransi berkata, “Engkau harus menyetujui apa yang saya lakukan.” Kasih menanggapi, “Saya harus berusaha lebih keras lagi; saya akan memohon kepadamu untuk mengikuti jalan yang benar, karena saya percaya engkau layak diperjuangkan.” Toleransi berupaya agar tidak menyinggung; kasih mengambil risiko. Toleransi tidak peduli, kasih aktif. Toleransi tidak membayar apa-apa; kasih membayar harga yang tertinggi. Sekali lagi, Yesus adalah teladan yang tertinggi dari kasih Kristen sejati, yang kadang-kadang merupakan antitesis dari toleransi. Kasih-Nya mendorong Dia menuju kematian yang mengerikan di atas kayu salib. Ia tidak pernah bersikap tidak peduli terhadap “pilihan jalan hidup” orang-orang lain, sebaliknya Ia membayar harga dan pilihan-pilihan itu dengan nyawa-Nya sendiri, dan dengan kasih, melicinkan jalan bagi setiap orang untuk “pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi” (Yoh. 8:11) [Metzger, hal. 221-222]. 
Implikasi-implikasi dari mempelajari hal ini adalah: (1) bahwa orang Kristen, hamba Tuhan, penginjil, dan sebagainya, harus berpegang teguh pada kebenaran (doktrin-doktrin Kristen, etika Kristen); (2) bahwa orang Kristen tidak boleh kompromi terhadap kebenaran dan dengan bodoh mengakui bahwa semua agama sama-sama benar, dan bahwa Yesus bukan satu-satunya jalan menuju Allah. Itu tidak boleh dilakukan oleh orang-orang Kristen; (3) bahwa meskipun tidak berkompromi, orang Kristen tetap harus mengasihi dan toleran terhadap orang yang berbeda keyakinan; (4) karena orang Kristen mengasihi, maka justru orang Kristen harus menyadarkan orang lain dari kesalahan mereka (dari segi doktrinal, etika Kristen, dan sebagainya); (5) bahwa teladan tertinggi orang Kristen dalam hal ini adalah Yesus Kristus. Yesus penuh dengan kasih dan toleran, tetapi tidak pernah berkompromi dengan kesalahan ajaran atau praktik hidup orang-orang sezaman-Nya. 

Catatan: sebelumnya, saya juga telah menulis mengenai masalah toleransi ini. Untuk pembaca yang mau baca, klik disini.   

[1]Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Lana Asali dan Jessy Siswanto dan diterbitkan oleh Penerbit Momentum di bawah judul Beritakan Kebenaran: Injil yang Seutuhnya, Sepenuhnya melalui Anugerah, Dikomunikasikan dengan Penuh Kesabaran dan Kasih (2013). 
[2]Memberikan pipi kiri setelah pipi kanan ditampar tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah. Menurut saya artinya adalah bahwa kita tidak boleh membalas perbuatan jahat yang dilakukan terhadap kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTRIN PREDESTINASI REFORMED (CALVINISME)

Oleh: Join Kristian Zendrato A. PENDAHULUAN Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas doktrin predestinasi yang merupakan sala...