Sabtu, 29 Desember 2018

RONALD NASH: ANTARA ARMINIANISME DAN CALVINISME

Oleh: Join Kristian Zendrato 

Saya telah menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca mengenai pertentangan teologis antara Calvinisme (Reformed) dan Arminianisme, dan dengan senang hati saya memproklamasikan diri saya sebagai seorang penganut Calvinisme (Reformed). Satu hal yang sangat mendasar, yang membuat saya menolak Arminianisme adalah perendahan mereka terhadap Allah.

Misalnya dalam persoalan predestinasi. Calvinisme mempercayai unconditional election (pemilihan tanpa syarat). Artinya, ketika Allah memilih seseorang untuk diselamatkan dalam kekekalan, maka dasar pemilihan-Nya itu didasarkan pada kehendak dan kedaulatan-Nya sendiri, bukan pada apa pun yang akan ada pada diri orang yang dipilih-Nya. Tetapi bagi Arminianisme, pemilihan Allah bukan seperti itu. Allah memang memilih seseorang untuk diselamatkan, tetapi pemilihan itu bukan didasarkan pada kerelaan kehendak-Nya semata-mata, tetapi pada apa yang telah lebih dulu Allah lihat dalam diri orang yang dipilih-Nya. Misalnya, Allah memilih si A karena Allah telah tahu bahwa si A akan percaya kepada Kristus dan akan bertobat dari dosa-dosa-Nya. Jadi, tindakan Allah untuk memilih ditentukan oleh apa yang Allah lihat dalam diri orang yang dipilih-Nya. Maka dari sini saya menyimpulkan bahwa dalam sistem Arminianisme, Allah betul-betul direndahkan, sehingga Allah memilih karena manusia memang pantas dipilih. 

Saya juga dicengangkan dengan penemuan-penemuan dari bacaan-bacaan saya bahwa dalam sistem teologi Arminianisme, kehendak atau rencana Allah sering bisa dihalangi oleh kehendak bebas manusia. Saya tidak tahu, Allah macam apa yang kehendak-Nya bisa digagalkan oleh kehendak bebas manusia? Tapi itulah Allah Arminianisme. Maka, seperti yang saya katakan sebelumnya, sistem teologi Arminianisme ini betul-betul merendahkan Allah dan meninggikan otonomi manusia.
  
Dalam berargumentasi, Arminianisme juga sering terlalu menggunakan logika manusia yang terbatas, tanpa tunduk kepada ajaran Alkitab yang jelas. Dan lagi-lagi ini jelas merupakan perendahan terhadap Allah. Merendahkan firman-Nya berarti merendahkan-Nya.
  
Kesimpulan saya ini diteguhkan oleh kesaksian singkat dari Profesor Ronald H. Nash. Nash adalah profesor teologi dan filsafat dari Reformed Theological Seminary, di Orlando, Florida. Nash pada awalnya adalah seorang teolog yang berhaluan Arminianisme, tetapi pada akhirnya ia meninggalkan sistem teologi tersebut dan menganut Calvinisme (Reformed).

Dalam sebuah bukunya yang berjudul When a Baby Dies[1] Nash menuliskan kesaksian singkatnya mengenai bagaimana ia pada akhirnya meninggalkan Arminianisme dan menganut Calvinisme. Nash meringkas 4 alasan utamanya sebagai berikut:
  
Alasan No. 1: Saya berhenti melawan pengertian Alkitab yang jelas. Anda harus ingat bahwa saya telah menjadi guru besar filsafat selama lebih dari empat puluh tahun. Dalam karier saya, saya telah mengamati perlunya keterbukaan dan pemikiran yang mendalam sebelum mengambil satu posisi. Namun, perlawanan saya terhadap Calvinisme merupakan perkecualian. Seingat saya, hanya satu kali sebelum tahun 1970, saya membuka sebuah buku yang memihak pandangan Reformed. Ketika saya membaca buku itu sepintas lalu, paradigma Arminian yang membelenggu saya belum dapat diruntuhkan. Masalah serupa muncul setiap kali saya sampai pada ayat atau bagian “Calvinis” dalam Alkitab; saya menemukan cara yang cerdik untuk menyingkirkan sengatan Reformed dari ayat itu. Saya meyakinkan diri bahwa Calvinisme tidak mungkin benar, dan tak satu pun yang dapat mengubah pikiran saya, bahwa kesaksian Alkitabiah yang berlimpah tentang kasih karunia Allah sekalipun. Akhirnya tiba saatnya saya berhenti melarikan diri dari pasal-pasal seperti Yohanes 6, Roma 8, dan Efesus 1-2. Saya memang belum menerimanya, tetapi pikiran saya tidak lagi tertutup bagi subjek-subjek tersebut.
  
Alasan No. 2: Suatu hari, tatkala merenungkan permasalahan ini dengan sungguh-sungguh, saya mulai menyadari natur perjuangan saya yang sebenarnya. Saya terbelah di antara posisi yang meninggikan manusia dan posisi lain yang meninggikan Allah. Akhirnya saya memutuskan – karena saya harus memilih di antara kedua sistem ini – bahwa saya harus memilih untuk berpihak pada Allah. Keputusan itu masih terasa masuk akal bagi saya sampai saat ini.
  
Alasan No. 3: Segera setelah saya dengan serius mulai membaca buku-buku Calvinis, tulisan dua orang pemikir Reformed mulai mengoyak pertahanan saya. Salah satunya adalah esai Roger Nicole yang berjudul “The ‘Five Points’ and God’s Sovereignty.” Satu lagi ditulis oleh seorang teolog dan penulis Inggris terkenal, J.I Packer. Ironisnya, tulisan Packer yang menolong saya dalam hal ini merupakan esai singkat yang hanya dibaca oleh sedikit orang. Esai itu diterbitkan sebagai pendahuluan bagi sebuah buku klasik karya penulis Puritan abad ke-17, John Owen, yang sekarang diterbitkan kembali. Buku tersebut berjudul The Death of Death in the Death of Christ. Begitu selesai membaca esai pengantar Packer, saya melanjutkan membaca karya Owen dan ketika selesai, saya mendapati diri saya berada dalam dunia yang sama sekali baru, dunia yang di dalamnya saya bukan lagi seorang Arminian.
  
Alasan No. 4: Setelah lama menolak Arminianisme, saya menemukan peneguhan atas keputusan saya di dalam tindakan para pemikir Arminian zaman sekarang. Ingatlah bahwa salah satu alasan saya meninggalkan Arminianisme adalah karena saya menyadari bahwa Arminianisme meninggikan otonomi manusia dan mengurangi peran Allah berkembang sedemikian sembrono sehingga, saya percaya, hal ini mengharuskan kita meragukan ortodoksi [ajaran] sebagian pemimpin ini.[2] 

Lalu Nash memberikan contoh pandangan tertentu yang menolak kematahuan Allah yang sempurna. Mereka menolak kemahatahuan Allah karena mereka tidak bisa menyelaraskannya dengan kehendak bebas manusia. Nash meratapi bahwa Allah digambarkan sedemikian terbatas oleh orang-orang ini sehingga “saya,” kata Nash, “sering merasa tergerak berdoa bagi-Nya, bukan kepada-Nya.”[3] 

Itulah beberapa alasan Nash meninggalkan Arminianisme. Pertama, karena ajaran yang jelas dari Alkitab menentang Arminianisme. Kedua. Karena Arminianisme merendahkan Allah dan meninggikan manusia. Ketiga. Karena Nash membaca argumentasi Calvinisme dari Roger Nicole dan J.I Packer dan John Owen. Keempat, karena ortodoksi sebagian pemimpin Arminianisme jelas cacat. 

Tetapi Anda mungkin berkata, “Apa gunanya menarik kesimpulan tanpa bukti?” Untuk hal ini, saya mau menjawab dengan dua hal. 

Pertama, saya telah menulis dua topik mengenai pertentangan Arminianisme dan Calvinisme sebelumnya, yakni mengenai Predestinasi dan Penebusan Terbatas. (Untuk membaca tulisan saya tersebut, klik di sini, klik juga di sini, klik lagi di sini, dan di sini). Nah, untuk menguji apakah kesimpulan diatas benar atau tidak, silahkan baca tulisan saya itu, kemudian bandingkan apakah memang benar bahwa Arminianisme itu merendahkan Allah atau tidak? 

Kedua, Kesimpulan di atas juga bisa mendorong Anda untuk lebih dalam mempelajari pertentangan kedua sistem teologi itu. Setelah anda belajar, silahkan simpulkan sendiri apakah kesimpulan saya di atas benar atau salah. 

Selamat belajar bro!

[1]Edisi bahasa Indonesia berjudul Keselamatan di Balik Kematian Bayi: Jawaban Penghiburan Bagi Orangtua yang Berduka, terj. Ellen Hanafi, cet. Ke-3 (Surabaya: Momentum, 2011).
[2]Nash
[3]Nash, Keselamatan di Balik Kematian Bayi, hal. 82.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTRIN PREDESTINASI REFORMED (CALVINISME)

Oleh: Join Kristian Zendrato A. PENDAHULUAN Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas doktrin predestinasi yang merupakan sala...