Rabu, 14 November 2018

“YANG SUDAH” DAN “YANG BELUM”: KARAKTER ESKATOLOGI PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU SERTA PENGARUHNYA TERHADAP HIDUP ORANG PERCAYA

Oleh: Join Kristian Zendrato

Ketika Anda membaca Perjanjian Baru, Anda akan menemukan bahwa di satu sisi Perjanjian Baru mengklaim bahwa janji Allah telah digenapi, tetapi pada saat yang sama, Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa janji Allah belum sepenuhnya digenapi, itu akan digenapi secara sempurna pada masa yang akan datang. Apa yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, telah digenapi sebagian dalam Perjanjian Baru, dan sebagiannya lagi akan digenapi pada waktu yang akan datang.

Berikut ini, kita akan meninjau beberapa contoh karakter eskatologi Perjanjian Lama. Setelah itu, kita akan memikirkan bagaimana hubungan hal itu dengan Perjanjian Baru. 

Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan konsep eskatologi dalam pengharapan tentang Juruselamat yang akan datang. Dimulai dari Kej. 3:15 yang menjanjikan bahwa dari benih perempuan, Tuhan akan mendatangkan Penebus yang akan menghancurkan kepala Iblis. Selanjutnya dalam Kej. 22:18 (bdk. 26:4; 28:14), Dia yang dijanjikan itu secara lebih spesifik dinyatakan akan datang dari keturunan Abraham dan Daud (2 Sam. 7:12-13). Dalam Kitab Yesaya, Dia nantinya disebut Imanuel, yang artinya Allah beserta kita (7:14), Dia disebut Allah yang perkasa (9:5). Dalam Yesaya 53, Dia digambarkan sebagai Hamba yang Menderita untuk keselamatan umat-Nya. “Dia tertikam oleh karena pemberontakkan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (ay. 5). Ide substitusi penal terlihat dengan jelas dalam ayat ini.

Hal-hal di atas jelas digenapi ketika Kristus datang dalam dunia ini melalui kelahiran-Nya dari perawan Maria, dan bahwa Ia mati untuk menggantikan umat-Nya.

Kemudian, dalam Perjanjian Lama, kita juga menemukan konsep eskatologi dalam nubuat pencurahan Roh Allah atas umat-Nya. Dalam Yoel 2:28-29 kita membaca: 
Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.
Nubuat di atas jelas digenapi dalam Kis. 2. Tetapi ayat di atas dilanjutkan secara mengejutkan oleh Yoel dengan berkata: “Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu” (Yoel 2:30-31). Anthony Hoekema menyatakan bahwa “Beberapa ayat dalam Perjanjian Baru (seperti, Luk. 21:25; Mat. 24:29) mengaitkan tanda-tanda dalam Kitab Yoel tersebut [khususnya 2:30-31] dengan kedatangan Kristus yang kedua.”[1] Jadi singkatnya, Yoel 2:28-29 itu digenapi secara jelas dalam Perjanjian Baru (baca Kis. 2:1-40), tetapi Yoel 2:30-31 akan digenapi pada kedatangan Kristus yang kedua. Tetapi dalam penulisannya, Yoel sepertinya menubuatkannya sebagai satu peristiwa, atau lebih tepat seperti yang diungkapkan oleh Hoekema, “Yoel sepertinya menubuatkan tanda-tanda tersebut seolah-olah sebagai peristiwa yang terjadi tidak jauh dari pencurahan Roh Allah.”[2] Padahal jarak antara pencurahan Roh Allah dalam Perjanjian Baru dengan kedatangan Kristus yang kedua kali bisa mencapai ribuan tahun (jelas kita tidak tahu).
  
Pencampuradukan seperti ini juga bisa dilihat dalam konsep Perjanjian Lama mengenai Hari Tuhan. Yesaya 13 misalnya mengatakan tentang hari Tuhan sebagai peristiwa yang tidak lama lagi, yaitu ketika Babel dihancurkan (ay. 6-8, 17-22). Tetapi, seperti dikatakan Hoekema, “dalam pasal yang sama, di antara gambaran tentang kehancuran Babel, terselip keterangan tentang hari Tuhan yang jauh di masa yang akan datang.”[3] Perhatikan misalnya ayat 9-11 berikut ini: 
Sungguh, hari TUHAN datang dengan kebengisan, dengan gemas dan dengan murka yang menyala-nyala, untuk membuat bumi menjadi sunyi sepi dan untuk memunahkan dari padanya orang-orang berdosa. Sebab bintang-bintang dan gugusan-gugusannya di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya. Kepada dunia akan Kubalaskan kejahatannya, dan kepada orang-orang fasik kesalahan mereka; kesombongan orang-orang pemberani akan Kuhentikan, dan kecongkakan orang-orang yang gagah akan kupatahkan.
Jadi, dari sini terlihat bahwa sepertinya Yesaya melihat kehancuran Babel dan hari Tuhan yang akhir sebagai hari yang sama.
  
Jadi, secara singkat, kita bisa menyimpulkan bahwa sifat dari eskatologi Perjanjian Lama itu kadang-kadang menunjuk pada kedatangan Kristus yang pertama, kadang-kadang juga menunjuk pada waktu dekat pada saat itu (seperti kehancuran Babel), dan kadang-kadang juga menunjuk pada masa depan yakni pada kedatangan Kristus yang kedua kali. Uniknya, hal itu sering dicampuradukkan bahkan dalam satu perikop oleh nabi-nabi Perjanjian Lama. Nanti, dalam Perjanjian Baru, hal-hal ini baru menjadi jelas. Kesimpulan Anthony Hoekema mengenai hal ini penting untuk dicermati:
Para nabi Perjanjian Lama menggabungkan hal-hal yang berkaitan dengan kedatangan pertama Kristus dengan kedatangan-Nya yang kedua. Hal ini tidak akan jelas sebelum masa Perjanjian Baru. Melalui Perjanjian Barulah kita memahami bahwa apa yang dilihat sebagai kedatangan Mesias dalam Perjanjian Lama akan digenapi melalui dua tahap: kedatangan pertama dan kedua. Dengan demikian, apa yang tidak jelas bagi para nabi Perjanjian Lama dibuat menjadi jelas dalam era Perjanjian Baru.[4]
Ketika kita memasuki dunia Perjanjian Baru, kita akan melihat bahwa nubuat-nubuat Perjanjian Lama itu berangsur-angsur tergenapi. Kelahiran Kristus dari perawan (Luk. 1:26-38), kematian-Nya yang menebus, pencurahan Roh Kudus atas orang percaya (Kis. 2:1-40), dan sebagainya, merupakan sebagian realisasi dari penggenapan nubuat Perjanjian Lama. Tetapi bagaimana pun, masih ada hal-hal yang belum digenapi dan baru akan digenapi pada masa yang akan datang. Mengenai hal ini, Hoekema menulis: 
Zaman penebusan sekarang yang telah dimulai dengan kedatangan Yesus Kristus yang pertama akan diikuti oleh zaman lainnya yang penuh dengan kemuliaan. Dengan kata lain, di satu pihak, orang-orang percaya yang hidup di masa Perjanjian Baru menyadari fakta bahwa peristiwa eskatologis yang dahsyat yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama sesungguhnya telah digenapi. Namun di lain pihak, mereka juga menyadari bahwa serangkaian peristiwa eskatologis lainnya masih bersifat akan datang.[5]
Hoekema melanjutkan dengan berkata, “Karena itu, kita patut menyimpulkan bahwa eskatologi Perjanjian Baru harus dibicarakan dalam pengertian yang menyangkut peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan sebagian lagi yang belum terjadi.[6] Peristiwa-peristiwa yang masih dinantikan oleh orang percaya di masa depan adalah seperti kedatangan Kristus yang kedua kalinya, kebangkitan, penghakiman terakhir, dan sebagainya. 

Hal inilah yang menjadi karakter eskatologis Perjanjian Baru. Di satu sisi nubuat Perjanjian Lama sebagian telah digenapi dalam Perjanjian Baru, tetapi juga masih banyak peristiwa yang baru akan digenapi pada masa yang akan datang. Hoekema menulis, “Di sini kita harus memperhatikan apa yang menjadi karakter utama eskatologi Perjanjian Baru, yaitu ketegangan antara ‘yang sudah’ dan ‘yang belum’ – antara apa yang orang percaya telah nikmati dan apa yang ia belum miliki.”[7] Dan menurut Oscar Cullman, “Seluruh teologi Perjanjian Baru ... dicirikan dengan ketegangan ini.”[8]
 
Lalu apa hubungan ketegangan “yang sudah” dan “yang belum ini” terhadap hidup orang percaya? Berikut ini ada beberapa analisis yang diberikan oleh Anthony A. Hoekema. Saya memilih empat diantaranya. 

Pertama. Ketegangan antara “yang sudah” dan “yang belum” ini akan diisi oleh tanda-tanda zaman yakni peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sebelum Kristus kembali, termasuk di dalamnya adalah penyebaran Injil, pertobatan Israel, penghujatan rohani, penganiayaan besar, dan munculnya antikristus. Hoekema mengatakan bahwa tanda-tanda ini tidak dapat dimengerti hanya sebagai peristiwa yang akan terjadi di masa depan, tetapi lebih tepatnya jika tanda-tanda ini dipahami sebagai peristiwa-peristiwa yang akan muncul disepanjang zaman, yakni antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua. Tetapi Hoekema juga menegaskan bahwa penggenapan klimaks dari peristiwa-peristiwa itu akan terjadi di masa depan sebelum Kristus datang kembali.[9]

Kedua. Ketegangan ini juga berimbas kepada Gereja. Di satu sisi, orang percaya telah lahir baru, tetapi belum sempurna. Kedua aspek ini jelas tidak boleh diabaikan. Maka pemberitaan firman, pengajaran, bimbingan pastoral, dan disiplin gereja, harus dilaksanakan dengan baik mengingat ketegangan ini. Kita harus memperlakukan sesama orang percaya sebagai orang-orang yang sudah ditebus, tetapi disatu sisi kita juga harus mengingat bahwa mereka dan kita belum sempurna. Ini penting untuk diperhatikan supaya ketika saudara seiman kita jatuh ke dalam dosa, kita harus mengampuni dan menerima mereka. Apa pun bentuk perbaikan yang dilakukan harus senantiasa berdasarkan semangat yang tertuang dalam Galatia 6:1, “Saudara-saudara, kalaupun suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”[10] 

Ketiga. Ketegangan ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang penuh pergumulan melawan dosa. Kita adalah ciptaan baru dalam Kristus, tetapi di satu sisi, kita belum sempurna, dan tidak pernah akan sempurna dalam dunia ini. Ini berarti kita harus berjuang melawan dosa, tetapi seperti yang dinyatakan oleh Hoekema, “Namun perjuangan ini harus dijalani bukan dengan pikiran bahwa kita kalah, melainkan dengan keyakinan untuk menang; karena kita tahu bahwa Kristus telah mematahkan kuasa Iblis, sehingga penghukuman akhir bagi Iblis merupakan hal yang sudah pasti.”[11] 

Keempat. Ketegangan ini juga menolong kita untuk memahami penderitaan yang dialami oleh orang percaya. Orang percaya di satu sisi telah dibebaskan tetapi pembebasan klimaksnya akan terjadi pada akhir zaman, yaitu ketika Allah akan menghapuskan segala air mata kita, dan ketika sengsara dan kematian tidak ada lagi (Why. 21:4).[12]
Tuhan memberkati!      


[1]Anthony A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman (Surabaya: Momentum, 2004), hal. 10. 
[2]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 10. 
[3]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 11. 
[4]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 14. 
[5]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 16. 
[6]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 17. 
[7]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 17. 
[8]Oscar Cullman, Salvation in History, Terj. S.G. Sowers (New York: Harper and Row, 1967), hal. 172, dikutip Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 17.
[9]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 93-94.
[10]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 94-95. 
[11]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 95. 
[12]Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman, hal. 97. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DOKTRIN PREDESTINASI REFORMED (CALVINISME)

Oleh: Join Kristian Zendrato A. PENDAHULUAN Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas doktrin predestinasi yang merupakan sala...